•11/24/2011

Norma Anggara – detikSurabaya

 

anak-7-miliar--D Surabaya - Beruntung nasib Aminullah. Pria 33 tahun asal Desa Sumber Rejo Banyu Putih, Situbondo ini anak pertamanya dinamai langsung oleh Presiden SBY.


Maklum, anak pertama dari pasangan Aminullah dan Lulusinniyah (29) merupakan salah satu anak yang lahir dan melengkapi komposisi penduduk dunia dengan total 7 miliar pada 31 Oktober lalu.


Tepat Hari Senin, Aminullah didatangi pihak kecamatan desanya. Kedatangan tersebut bermaksud untuk mendata anak semata wayang Aminullah sebagai satu dari 5 anak lainnya yang akan dinamai langsung Presiden SBY.


Selang 7 hari setelah itu, datanglah kabar baik dari pihak kecamatan. Bahwasanya, anak lelaki semata wayang Aminullah mendapat kesempatan dan keberuntungan untuk diberi nama langsung oleh presiden.


Aminullah mengaku sangat senang. Pria ini sebelumnya tak pernah terpikirkan bila anak pertamanya ini akan sangat beruntung dinamai presiden.


"Seperti dapat penghargaan dari presiden," kata Aminullah saat usai menerima sertifikat nama bayi 7 miliar dari Presiden RI melalui Menko Kesra Agung Laksono di Lenmarc Mal, Rabu (23/11/2011).


Saat diajukan dengan 5 bayi lainnya, lanjut Aminullah, dirinya mengaku tak berani berharap lebih. Namun kenyataan berkata lain. Anak pertama Aminullah terpilih menyandang nama Ahmad Saptaji Adibuwono langsung dari Presiden RI.


"Semoga bisa menjadi harapan bangsa," kata Aminullah.


Sementara, dua bayi lainnya yang beruntung mendapat sertifikat nama bayi 7 miliar adalah Muhammad Sapta Aji Nugroho (Situbondo) dan Amanda Putri Rovina (Madiun). Muhammad Sapta Aji Nugroho dinamai oleh Gubernur Jatim, Soekarwo. Sedangkan Amanda telah dinamai oleh orang tuanya sendiri.
(nrm/fat)

 

 

Sumber :detik.com, Rabu, 23/11/2011 16:15 WIB

•11/24/2011

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

 

bayi Surabaya, Pada 31 Oktober 2011, seluruh dunia termasuk Indonesia memperingati lahirnya bayi ke-7 miliar di masing-masing negara. Secara simbolis, seorang bayi laki-laki asal Situbondo Jawa Timur dinobatkan sebagai bayi ke-7 miliar yang diberi nama Ahmad Saptaji Adibuwono oleh Presiden SBY.


Bayi ke-7 miliar versi Indonesia ini merupakan anak dari pasangan Bapak Aminullah dan Ibu Hulusinia, warga Dusun Sukorejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Sang bayi lahir pada 31 Oktober 2011, ketika penduduk dunia genap berjumlah 7 miliar.


Nama dan sertifikat bagi bayi ke-7 miliar ini diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun penyerahannya diwakili oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.


Penyerahan sertifikat dilakukan dalam pembukaan acara Gardalila dan Peringatan 7 Billion People di Lenmarc, Surabaya yang juga dihadiri oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief.


Sedangkan untuk bayi perempuan ke-7 miliar BKKBN baru akan memberikan sertifikat pada 25 Novembver 2011 di Sumatra Barat.


Dalam acara tersebut, Menko Kesra mengatakan orang-orang kaya juga harus memberi contoh terkait program Keluarga Berencana (KB). Meskipun mampu secara ekonomi, orang-orang kaya justru harus mendidik masyarakat lainnya untuk turut partisipasi dalam rencana revitalisasi program KB.


"Apalagi yang ekonominya baik ke masyarakat. Jangan karena mampu dalam segi ekonomi, kemudian nekat memiliki banyak anak," ujarnya seperti dikutip dari detikSurabaya, Rabu (23/11/2011).


Bayi bernama Ahmad Saptaji Adibuwono tersebut menjadi simbolisasi penduduk dunia yang ke-7 milar, mewakili bayi berjenis kelamin laki-laki. Sementara untuk wakil bayi perempuan, penghargaan yang sama akan diberikan pada seorang bayi di Payakumbuh, Sumatera barat yang namanya belum dibocorkan.


Selain di Indonesia, peringatan lahirnya penduduk dunia yang ke-7 miliar juga dilakukan di berbagai negara. Masing-masing negara memiliki caranya sendiri, untuk menyadarkan bahwa dunia semakin penuk sesak.


Misalnya di Filipina, seorang bayi lahir 2 menit sebelum tengah malam pada Minggu (30/10/2011). Oleh perwakilan PBB di negara tersebut, bayi perempuan bernama Danica May Camacho ini langsung dinobatkan secara simbolis sebagai bayi ketujuh miliar.


Jika di Indonesia bayi ketujuh miliar diperingati dengan pemberian nama oleh presiden, negara lain punya cara sendiri-sendiri untuk memperingatinya. Misalnya seperti diberitakan detiknews, di Rusia, pemerintah menyiapkan kado khusus sedangkan di Pantai Gading akan digelar sebuah acara komedi.
(up/ir)

 

 

Sumber : detikhealth.com, Rabu, 23/11/2011 14:38 WIB

•11/23/2011

Meylan Fredy Ismawan – detiksport

 

 

inaJakarta - Malaysia bisa mengalahkan Indonesia di final sepakbola SEA Games XXVI karena lebih unggul saat beradu penalti. Soal adu penalti ini, 'Harimau Malaya' dinilai memang lebih siap menghadapinya.


Laga di Gelora Bung Karno, Senayan, Senin (21/11/2011) tak menghasilkan pemenang hingga 90 menit waktu normal usai. Babak tambahan 2x15 menit pun tak mengubah skor imbang 1-1. Mau tak mau, adu penalti pun harus dilakukan.


Pada babak tos-tosan, dua eksekutor Indonesia yaitu Gunawan Dwi Cahyo dan Ferdinand Sinaga gagal menuntaskan tugasnya. Di kubu Malaysia, cuma Saarani Ahmad Fakri yang gagal. Alhasil, Malaysia pun keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3.


Pelatih timnas Indonesia U-23, Rahmad Darmawan, mengakui bahwa Malaysia lebih siap menghadapi adu penalti ini.


"Sebetulnya sampai tadi sebelum wasit menunjuk adu penalti, kita siap secara mental. Hanya saja, ketika adu penalti, di situ terlihat bahwa pemain-pemain Malaysia lebih berpengalaman dari kita," ungkapnya seusai pertandingan.


"Penjaga gawang mereka sangat siap sekali. Pemain-pemain mereka juga sangat siap melakukan adu penalti. Terlihat dari mereka sanggup," tambah Rahmad.


"Sementara di kita, saat saya mau minta siapa yang siap menendang, jumlahnya kurang. Yang siap cuma tiga orang. Sehingga dengan sedikit saya paksa. Akhirnya semua mau," papar pria yang akrab disapa RD ini.

 
"Sebetulnya kita sudah bersiap adu penalti. Sebelum semifinal kita sudah latihan. Tapi, siap di dalam latihan belum tentu siap di dalam pertandingan. Di dalam pertandingan besar seperti ini, bukan cuma skill atau teknik yang bicara, tapi mental yang bicara," pungkasnya.
( mfi / rin )

 

 

Sumber : detiksport.com, Selasa, 22/11/2011 03:58 WIB