•7/17/2011

110717061933_old_love_letter_464x261_1_nocredit

Surat cinta inilah yang berkelana selama 53 tahun sebelum sampai ke pemiliknya.

 

Menerima surat cinta dari sang kekasih yang tinggal terpisah tentunya menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Namun apa jadinya jika surat cinta itu baru diterima setelah 53 tahun sejak surat itu ditulis?

Inilah yang terjadi terhadap Mohammad Sideeq alias Clark C Moore, 74, yang akhirnya menerima surat cinta yang ditulis sang kekasih -yang kini menjadi istrinya- 53 tahun lalu.

Surat cinta itu tiba secara misterius di Universitas California Pennsylvania, 10 hari lalu.

Dua lembar surat cinta itu, yang menurut cap pos tertanggal 20 Februari 1958, ditutup dengan kata-kata 'cinta selamanya Vonnie'.

Siddeeq, pensiunan guru yang kini tinggal di Indianapolis itu mengatakan sangat terkejut saat pihak universitas menghubunginya.

"Amerika memiliki sistem, jika sesuatu itu memang untuk Anda, maka pasti barang itu akan Anda terima. Ini sangat indah," kata Siddeeq kepada stasiun televisi WTAE.

 

Saling berbalas surat

Kisah cinta dekade 1950-an memang berbeda. Tanpa komputer, Siddeeq mengenang, menulis surat adalah satu-satunya cara yang paling romantis untuk tetap berhubungan dengan sang kekasih.

"Kami saling menulis surat saat kami kuliah," kenang Siddeeq.

Dia mengakui perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedih, apalagi dia dan Vonnie kini sudah bercerai.

Meski demikian, Siddeeq tetap sangat antusias membaca surat dari mantan istrinya itu.

"Surat ini adalah perlambang ketulusan dan keluguan pada masa itu," kata Siddeeq kepada harian Washington Observer.

Lalu, apa penyebabnya sehingga surat cinta yang satu ini harus berkelana 53 tahun sebelum sampai ke tujuannya?

Ternyata, perubahan nama dari Clark C Moore menjadi Mohammad Siddeeq lah penyebabnya.

Perubahan nama inilah yang menyebabkan petugas pos kesulitan melacak alamat si penerima surat.

Yang jelas kini, siddeeq bisa membaca surat kenangannya itu sambil mengenakan kaus Universitas California yang dikirimkan pihak kampus bersama surat lamanya itu.

 

                            Sumber : BBC Indonesia, 17 Juli 2011 - 13:26 WIB

•12/21/2010

Oleh: dr Phaidon Lumban Toruan

KOMPAS.com — Luar biasa! Tim nasional berhasil mengoleksi empat kemenangan berturut-turut di ajang Piala AFF. Terakhir adalah saat melawan Filipina, yang katanya memiliki sembilan pemain naturalisasi. Semua lawan yang telah merasakan keperkasaan Firman Utina dan kawan-kawan saat ini mungkin cukup terperangah melihat tim sebuah negara besar yang sudah lama absen dari prestasi tiba-tiba tampil berbeda.

Kemenangan yang bukan main-main. Menundukkan Malaysia 5-1, mencukur Laos 6-0 (yang mampu menahan Thailand 2-2), dan menaklukkan Thailand 2-1 (salah satu tim terkuat di Asia Tenggara), dan terakhir menang atas Filipina 1-0 di semifinal leg pertama adalah bukti keperkasaan itu.

Apa rahasia besar dari semua ini? Tentu ini adalah hasil kegigihan semua pemain di lapangan serta peran besar seorang Alfred Riedl, sang pelatih kepala, yang dibantu asisten Wolfgang Pikal dan Widodo C Putro. Tapi, apalagi?

Pasti ada sesuatu yang baru bukan? Masalahnya bukan sekali karena Indonesia menggunakan jasa tenaga pelatih asing. Bahkan negara yang disegani di Asia Tenggara, Thailand, menggunakan jasa pelatih ”bule” sekaliber Bryan Robson pun harus angkat koper lebih awal. 

Apa yang berbeda?
Sejak PSSI menunjuk Iman Arif sebagai Direktur Badan Tim Nasional (BTN),  ia secara intensif membentuk suatu tim yang terdiri atas para profesional. Ia melibatkan banyak orang dengan latar belakang  profesional di perusahaan multinasional. Orang-orang pilihan ini menempati semua divisi, mulai dari sekretaris direksi, direktur administrasi, direktur  keuangan, direktur marketing, direktur talent scouting, dan direktur sport science.

Iman melakukan perubahan radikal di semua lini dan menerapkan true management. True management di perusahaan multinasional seperti yang dikomandoi ImanArif senantiasa menerapkan management science dalam pekerjaan sehari-harinya.

Iman saat ini tidak lagi menjabat Direktur BTN, tetapi kini bertugas sebagai Direktur Teknis di bawah direktur baru BTN, Nirwan Bakrie. Saya sendiri pernah menjabat direktur sport science di BTN.  Tetapi, saat ini saya lebih banyak membantu Iman membuat rancangan strategis untuk meningkatkan, bukan hanya kualitas tim nasional, melainkan juga melakukan transfer knowledge ke seluruh insan sepak bola di Indonesia.

Artinya, Badan Tim Nasional  bekerja mengumpulkan semua ilmu pengetahuan yang menunjang prestasi sepak bola (bisa dibilang kulakan ilmu), melakukan cara-cara  aplikasi ilmu pengetahuan tersebut sesuai dengan kondisi di Indonesia. Keberadaan organisasi divisi sport science di Badan Tim Nasional  merupakan bagian dari pelaksanaan rekomendasi sarasehan sepak bola nasional di Malang beberapa waktu lalu.

Ada beberapa stretegi sport science yang diformulasikan buat timnas. Strategi pertama adalah melakukan aplikasi sport medicine dibantu beberapa profesional. Apa yang dilakukan dalam disiplin ilmu ini adalah melakukan pemeriksaan awal, baik pemeriksaan fisik, laboratorium, dan musculoskeletal (sendi dan/atau otot).

Dengan pemeriksaan ini, data pemain yang dinyatakan oleh tim sport medicine tidak fit diserahkan kepada Alfred sebagai pelatih kepala sehingga saat menyusun tim, bisa mengantisipasi pemain-pemain yang bermasalah secara kesehatan agar tidak mengganggu program kerjanya.

Usaha ini tentu perlu kesabaran karena tim memeriksa puluhan pemain yang secara kasatmata merupakan yang terbaik di Indonesia. Hasil akhir dari pekerjaan ini adalah adanya penilaian kondisi fisik pemain sehingga timnas yang terbentuk terdiri atas pemain yang fit untuk pelatihan.

Strategi kedua adalah melakukan aplikasi sport nutrition. Saat awal pembentukan timnas, akibat kurangnya dokter yang menjadi ”pemain lapangan” di bidang sport nutrition, saya melakukannya sendiri sesuai dengan pengalaman menangani beberapa atlet nasional. Pada pelatnas tahap kedua, pakar dari FKUI-RSCM dilibatkan untuk membantu pengawasan dan penyusunan menu makan. Walaupun sudah diawasi, tetap saja aplikasi sport nutrition belum sepenuhnya sempurna dilakukan.

Ketiga, adalah psikologi olahraga. Mental ternyata masih menjadi masalah di Indonesia. Untuk itu, ada banyak program yang telah disiapkan oleh tim sport science Badan Tim Nasional, tetapi belum semuanya bisa dijalankan.

Keempat adalah penggunaan sport technology. Beberapa hal unik dalam aplikasi  teknologi sport adalah penggunaan alat ukur yang canggih guna menentukan kecepatan tendangan, membuat sepatu yang didesain khusus untuk personal (karena pada faktanya kaki kiri dan kaki kanan manusia ukurannya tidak sama, sementara sepatu selalu dibuat simetris), penggunaan berbagai gadget seperti gelang magnet, dan salah satu aplikasi yang paling sederhana yang bisa dikerjakan adalah dengan bermain dengan teknologi IT.

Beberapa hal yang berhubungan dengan IT adalah pencatatan data, simulasi pertandingan, review pertandingan, komunikasi, dan visualisasi yang mendukung semua hal yang diperlukan dalam mencapai performa maksimal.

Lewat tulisan ini, Anda bisa melihat bahwa di dalam Badan Tim Nasional PSSI sudah ada beberapa perubahan khusus di bidang sport science saja. Masih ada perubahan lain di divisi lain yang ada di tubuh Badan Tim Nasional.

Pada akhir tulisan ini saya sekali lagi mengatakan bahwa prestasi tim nasional adalah prestasi tim. Tim pelatih dan  tim pemain, tim support, tim administrasi, tim marketing, tim talent scouting, tim sport science dan tim medis, dukungan PSSI, dukungan pemerintah, serta jiwa seluruh rakyat Indonesia yang berhimpun di Gelora Bung Karno, menjadikan kita saat ini memiliki  modal sebagai super team, bukan ”kumpulan superman”.

Dengan demikian, kita berpeluang menjadi the winning team. Dan kalau saja prestasi  dan kerja sama ini diteruskan, mimpi saya dan juga insan sepak bola Indonesia bahwa kita bisa dan mampu main di putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil akan menjadi kenyataan.

Saya mengundang para pemimpi besar di negeri ini untuk  mengambil tindakan saat ini juga demi kejayaan Indonesia. Saat ini kita melihat Indonesia menari. Tahun 2014, kita akan menari, menyanyi, dan bersukacita melihat jati diri kita yang sebenarnya. Saat itu kita akan tepuk dada kita dengan bangga seraya berkata, ”Saya orang  Indonesia.”
Penulis adalah Sports Scientist di Badan Tim Nasional PSSI

 

Sumber : kompas.com , Jumat, 17 Desember 2010 | 14:31 WIB

•12/21/2010

Written by Aksi Bintang, Aksi Bola, Liga Indonesia Dec 8, 2010

 

christian-gonzales3-300x145 Tak bisa dipungkiri, kehadiran Gonzales di timnas memberi warna baru pada permainan khususnya lini depan. Artinya, pilihan naturalisasi cukup tepat. Apakah akan ada yang menyusul Gonzales?

Deputi Bidang Teknis BTN, Iman Arif mengatakan pihaknya sudah menyiapkan short list nama-nama calon pemain naturalisasi. Ada lima yang sudah matang. Namun, semua kembali kepada pilihan pelatih Alfred Riedl. Jika beliau ok, BTN akan menjalankan prosesnya.

Victor Igbonefo pemain belakang Persipura. Kemudian, Sammy Patrick bek Persema Malang asal Kamerun. Lalu, Kim Jefrey serta Sergio van Dijk. Nama kedua pemain itu diakui Iman Arif sudah lama dicalonkan. Dan yang baru Ponggoue Marcial.

“Saya belum dapat kabar ia bermain di mana,” ungkap Iman Arif kepada bolanews.com.

Timnas Indonesia diakuinya masih memerlukan kekuatan di lini belakang. Sebagian besar dari nama-nama itu, adalah pemain belakang. Proses menurut Iman Arif sedang berjalan dan digodok.

“Jika tidak ada halangan, bulan Januari tahun depan mereka sudah mengantongi paspor Indonesia. Namun, tetap semuanya bergantung pada keputusan Riedl. Kalau ia meminta semua pemain (dalam daftar-red) dinaturalisasikan, BTN akan lakukan. Tapi, kalau beliau mengatakan hanya dua atau tiga saja ya, kami buatkan paspornya hanya dua atau tiga pemain. Semua bermuara kepada kebutuhan tim. BTN hanya menyiapkan saja,” papar Iman Arif.

Naturalisasi dikatakan Iman Arif hampir dilakukan oleh sebagian besar negara. Naturalisasi sedang menjadi tren global. Indonesia diakui Iman Arif masih membutuhkan pemain naturalisai 2 sampai 3 tahun ke depan.

“Tapi, jangan sampai terhanyut dengan euforia naturalisasi. Pembinaan usia muda tetap menjadi jalan utama pembentukan timnas yang kuat. Saat ini naturalisasi pilihan, bukan jawaban. Kami tetap mengutmakan pembinaan. Karena, hal itu merupakan kunci pembentukan tim yang kuat dan kontinu. Saat ini yang terjadi adalah, saya mencoba untuk memadukan naturalisasi dengan pembinaan. Ada pemain naturalisasi, ada pemain muda, dan ada pemain senior. Saat ini, itu langkah yang tepat,” urai Iman Arif lagi.

Bagi Iman Arif, naturalisasi tetap program jangka pendek. Jangka panjangnya, tentu pembinaan dan pelatihan usia muda.

“Sekarang euforia naturalisasi sedang tinggi. Boleh saja, tapi jangan sampai terhanyut dan melupakan pembinaan itu,” tandas Iman Arif.

 

Sumber : http://aksibintang.com